Knowledge Sharing Information (KSI): Kesuksesan e-procurement pada e-government Supply Chain di Indonesia.

Posted by admin | Hot Issue | Thursday 19 November 2009 11:28 am

Pada KSI kali ini, tema yang diangkat yaitu mengenai Kesuksesan e-procurement pada e-government Supply Chain di Indonesia (Berdasarkan studi kasus e-procurement Pemerintah Kota Surabaya.)

Latar Belakang dari issu ini yaitu semenjak Inpres Nomor 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan  e-Government  diterbitkan, telah banyak inisiatif dilaksanakan oleh berbagai instansi. Penerapan e-government  supply chain bukanlah suatu yang sederhana, yang hanya memberikan komputer atau melakukan otomatisasi terhadap prosedur yang ada.  Salah satu komponen dalam e-government supply chain adalah upstream Supply Chain yang dikenal dengan istilah e-procurement.  Penerapan e-procurement di institusi pemerintah oleh Pemerintah Kota Surabaya merupakan satu-satunya contoh sukses. Oleh karena itu, dalam penelitian berbasis library research  ini dilakukan pembahasan secara detail mengenai aspek kesuksesan penerapannya. Analisa yang dilakukan, menunjukkan bahwa kepemimpinan yang kuat merupakan aspek kunci dalam penerapan e-procurement di institusi pemerintahan.

Untuk mendapatkan materi yang lebih lengkap dapat di download pada link dibawah ini.

Kesuksesan e-procurement pada e-government Supply Chain di Indonesia

RFID (Radio Frequency Identification)

Posted by admin | Hot Issue | Friday 12 June 2009 12:13 pm

Wal-Mart di Amerika dan Metro di Jerman memelopori penerapan RFID. Kini, tak hanya pemasok peritel, industri lainnya pun ambil kuda-kuda.

RFID berpotensi diterapkan hampir di setiap sektor industri – perdagangan dan jasa – dimana ada proses pengumpulan data. Bisa juga sebagai tambahan terhadap teknologi data capture lainnya. Dari sisi industri, RFID bisa diterapkan di sepanjang rantai pasok, mulai dari hulu (pemasok dan pemanufaktur), kemudian merembet ke distribusi, transportasi, logistik, pergudangan dan berujung pada pengecer atau peritel.

Di rangkaian supply chain, penerapan RFID sangat berpengaruh pada pemasok dan pemanufaktur. Misalnya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar: Berapa jumlah barang yang harus dihasilkan? Kapan harus dibuat? Ke mana harus dikirim? Ada di mana barang-barang itu?

Dengan jawaban yang tepat dan akurat, mereka bisa membuat forecasting, memroduksi dan mendistribusikan secara lebih efisien. Bahkan, dengan RFID, just-in-time manufacturing dapat berkembang lebih jauh menjadi real-time manufacturing.(Ginsburg,2008)

RFID akan menyentuh tiap bagian dari bisnis pemanufaktur. Teknologi RFID akan berdampak positif pada pengelolaan bahan mentah dan aset-aset yang reusable, inventori gudang, pengiriman, pemrosesan pengembalian barang, logistik dan lainnya.

Bagi pemasok, RFID dapat memanfaatkan peralatan dan aset-aset lainnya secara lebih baik. Peralatan yang ber-tag RFID seperti forklift, troli dan kontener, dus dan palet akan lebih mudah dideteksi, juga isi yang dibawanya.

Dampak positif lain yang bakal dinikmati para pemanufaktur adalah inventory management yang lebih baik. Dengan menempelkan tag pada dus dan pallet, juga barang, perhitungan inventaris lebih akurat. Out-of-stock berkurang, karena para pemasok mengetahui dengan tepat kapan jumlah stok menipis. Jika teknologi untuk memprediksi permintaan ksalah satu bentuk RFIDonsumen sudah dimiliki, RFID membuatnya lebih efektif.

RFID dapat meningkatkan proses produksi. Bahan baku yang banyak dan beragam bisa diberi tag untuk mengurangi kesalahan dalam proses pemilihan atau pencampuran bahan baku. Selain dapat menghasilkan produk-produk yang bermutu tinggi, lingkungan kerjanya lebih aman.

RFID telah bergulir. Namun masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum digelar secara luas. Beberapa perusahaan riset pasar TI sudah wanti-wanti agar perusahaan yang ingin mengadopsi RFID perlu memperhatikan kesiapan infrastrukturnya.