Unik : Rantai Pasok Nucifera dari CV Biomass

Posted by admin | Activities | Saturday 6 June 2009 11:42 am

papan-nama3

Tanggal 2 juni lalu,  Lab. LSCM mengadakan kunjungan ke CV. Biomass. Peserta dari kunjungan ini adalah para asisten lab LSCM. Produk yang dihasilkan dari CV. Biomass ini salah satunya adalah Nucifera. Nucifera merupakan minyak kelapa murni yang diproduksi dengan tetap menjaga sifat natural dari buah kelapa segar (bukan kopra), diproduksi dengan prose salami tanpa bahan kimia, tanpa penambahan zat aditif, dan tanpa menggunakan pemanasan.

 

Pagi itu, dengan berkumpul di laboratorium terlebih dahulu, peserta kunjungan berangkat bersama-sama menuju kantor CV. Biomass yang terletak di Jalan Sarono Jiwo I. Disana, kami disambut oleh mas Gelardi selaku direktur dari CV. Biomass. Karena merupakan awal kali pertama bertemu, tentunya pertemuan tersebut diawali dengan ramah tamah. Para asisten Lab. LSCM saling memperkenalkan diri dan menyatakan maksud dari kunjungannya tersebut yakni mengetahui Supply Chain dari Nucifera itu sendiri.

 

Dari pertemuan tersebut, ternyata tidak hanya pengetahuan mengenai supply chain itu  sendiri yang didapatkan. Banyak sekali pengalaman-pengalaman inspiratif mengenai technopreneurship yang dijelaskan oleh Mas Gelardi dalam merintis bisnisnya itu. Dalam kisahnya merintis bisnis, ia menceritakan bagaimana awal mulanya CV. Biomass berdiri hingga sekarang ini.

 

Kisah technopreneurship : ”…. tertipu secara optimum dan bangkrut secara efektif..”

Mas Gelardi sendiri, dahulunya merupakan mahasiswa dari ITS jurusan Teknik Kimia. Sejak masa duduk di bangku kuliah,  dengan ke sepuluh kawannya, ia ingin sekali membuka suatu usaha yang tentunya memiliki basic yang berkaitan dengan latar belakang pendidikannya. Setelah lulus, sebelas orang tersebut dengan menggabungkan modal baik itu dana dan pikirannya untuk mendirikan CV. Biomass. Nama Biomass itu sendiri diambil dari nama salah satu laboratorium yang berada dalam naungan Teknik Kimia ITS.

 

Pengalaman demi pengalaman diceritakan secara jenaka oleh Mas Gelardi. Karena sangat menarik dan juga inspiratif, para peserta mendengarkan dengan seksama. Pelajaran yang menarik dapat diambil ketika ia bercerita tentang pentingnya pengetahuan untuk menghindari tertipu secara optimum dan bangkrut secara efektif. Kata-kata yang diucapakannya ini tentu saja menarik perhatian para peserta. Tentu saja kemudian ia menjelaskan maksud dibalik kata-katanya. Menurut pengalamannya, dalam menerjuni dunia usaha perlu mengetahui medan usaha tersebut dengan baik. Ia mengungkapkan bahwa  banyak terdapat faktor x yang tidak dapat diduga. Mas Gelardi sendiri bertutur bahwa sering kali ia tertipu dalam menjalankan bisnisnya itu. Misalkan saja, ketika ia harus mengirimkan kelapa-kelapa untuk produksi Nucifera, harus ada pengawasan yang ketat terhadap supplier. Karena salah-salah, jika tidak diawasi maka kelapa-kelapa yang dikirimkan adalah kelapa kecil atau kelapa yang tidak layak untuk diproduksi. Tidak itu saja pengalaman tertipunya, pernah juga suatu hari ia harus menanggung kerugian senilai  satu truk kelapa karena dibawa lari oleh pengemudi truknya. Pengalaman mengenai kebangkrutanpun juga tidak kalah menarik perhatian, yakni ketika ia berusaha dalam ekspor fiber.  Dalam usahanya ini, kesalahan fatal yang dilakukannya adalah mengabaikan medan tempuh dari ekspor fibernya. Fiber sendiri sangat tergantung dengan keadaan lingkungan sekitarnya. Memang sebelum pengiriman cek awal sudah dilakukan bahwa fiber yang dikirim memenuhi kualifikasi dari customer. Namun selama perjalanan ekspor fiber tersebut, ia tidak memperhitungkan kondisi alam tersebut. Customer sendiri tidak memberitahukan mengenai hal ini kepadanya, sehingga benar saja ketika sampai dilokasi customer fiber yang tiba tidak sesuai dengan kualifikasi. Pada saat itu, tentu saja ia harus menaggung kerugian yang sangat besar karena customer waktu itu hanya mau menanggung biaya 20% dari yang dijanjikan sebelumnya.

 

Supply Chain Nucifera

 

mobil

Untuk Supply Chain dari Nucifera sendiri awalnya memang terlihat sederhana yakni diawali dengan supplier yang memasok kebutuhan kelapa. Kelapa-kelapa ini selanjutnya diangkut menuju manufaktur untuk diproduksi. Setelah produksi selesai hingga tahap pengemasan, produk Nucifera ini dikirmkan kepada retailer atau outlet-outlet penjualan.  Namun demikian berdasarkan penuturan Mas Gelardi, bila dilihat dari sudut pandang supply chain sendiri, produk Nucifera yang diproduksi oleh CV. Biomass ini mempunyai karakteristik yang unik. Jika ditelusuri lebih dalam, ternyata dalam pengelolaan Supply Chain nya, ada beberapa hal penting yang harus menjadi perhatiannya yakni struktur geografi, musim, kultur dari negara indonesia  dan bentuk fisik kelapa itu sendiri.  Keempat hal ini sangat penting untuk dipertimbangkan dalam rangka menjaga kelancaran aliran produk dari hulu hingga ke hilir.

 

Dibandingkan dengan kelapa sawit, aktivitas supply untuk kelapa menurutnya lebih sulit. Hal ini dikarenakan karena pohon-pohon kelapa  yang menjadi ujung tombak dari usahanya itu secara geografi tersebar secara tidak merata di masing-masing rumah penduduk. Tidak seperti kelapa sawit yang memang dibudidayakan dalam perkebunan, sebelum dapat melakukan supply tentu saja kelapa-kelapa ini harus dikumpulkan disuatu tempat terlebih dahulu baru kemudian dikirimkan ke manufaktur. Hal ini tentu saja membutuhkan effort tersendiri dalam proses pelaksanaannya. Belum lagi jumlah panen dari kelapa-kelapa yang berbeda dalam satu tahun karena adanya pengaruh musim. Hal ini membuatnya berpikir bahwa tidak bisa usahanya hanya tergantung pada satu supplier saja. Supplier yang saat ini memasok kelapa untuk usahanya tersebar pada wilayah Jawa Barat, Lombok dan Bali. Namun demikian, dalam ilmu supply chain management, semakin banyak supplier akan menimbulkan permasalahan pada proses koordinasi. Apalagi adanya permasalahan perbedaan mengenai harga dan patokan kualitas dari tiap-tiap supplier akan menuntut tingginya effort dalam hal koordinasi supplier. Dari sisi kultur ada beberapa kendala juga yang tak bisa dihindari. Contohnya saja ketika ia mengusung ide melakukan pengiriman dengan menggunakan truk besar. Secara teori, dalam logistics management pengiriman sekali dalam jumlah yang besar akan meningkatkan economic of scale dari pengiriman. Namun demikian, kendala muncul dari penduduk-penduduk yang memiliki usaha sebagai transporter dengan truk-truk yang lebih kecil.  Tentu saja mereka tidak menyetujui adanya penggunaan truk besar karena akan berimbas pada usahanya. Demi menghormati kultur ini, tentu saja ide penggunaan truk besarpun tak dapat dijalankan. Dari sisi bentuk fisik kelapa, hal ini juga memiliki pengaruh yang berarti terutama dalam hal pengiriman. Untuk menjaga kealamian kelapa, kelapa harus dikirimkan dalam bentuk utuh masih berupa batok kelapa dan sabutnya padahal kebutuhan produksi hanya membutuhkan daging dari kelapa saja. Namun demikian, hal ini tetap harus dipertahankan meskipun perbandingan antara volume kelapa dan pengiriman sangatlah tidak efisien.

 

Dalam hal distribusi dan marketing, Mas Gelardi menjelaskan bahwa produknya Nucifera ini masih dalam tahap pencarian tipe distribusi dan sistem marketing yang efektif. Ia menjelaskan bahwa pertama kali distrtribusi dan marketing dari Nucifera dilakukan dengan direct selling system dengan menggunakan tenaga penjual (salesman). Hal ini dilakukan  mengingat produk Nucifera merupakan produk baru. Sehingga penyampaian mengenai knowledge product sangat penting pada awal pertama kali produk ini diluncurkan. Namun demikian, hal ini dirasa kurang efektif mengingat tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk mentraining tenaga sales. Untuk itu, kemudian dicobalah mass distribution system. Produk Nucifera ini dikirimkan dan di jual melalui toko-toko. Namun demikian, karena produk ini baru sistem distribusi seperti ini tidak menunjang marketing karena knowledge product tidak tersampaikan dengan baik pada cutomer. Karenanya saat ini, CV Biomass mencoba sistem marketing yang baru dalam menunjang distribusinya tersebut. Yakni dengan mengimplementasikan new wave marketing system. Harapannya adalah knowledge product dapat tersampaikan secara tepat namun disisi lain juga menekan biaya dari marketing itu sendiri.

 

Begitulah kunjungan yang dilakukan Lab. LSCM ke CV. Biomass. Dalam penutupannya Mas Gelardi menuturkan kesimpulan bahwa tidak selamanya usaha dapat berjalan licin sesuai dengan keinginan. Namun pengalaman-pengalaman tersebut tidak membuatnya patah arang dalam berusaha. Menurutnya yang paling penting adalah, untuk dapat menaklukan bidang usaha yang digelutinya, seseorang harus mengetahui dengan baik mengenai pengetahuan akan produknya baik itu pengetahuan intrinsik mengenai produk maupun ekstrinsik. Pengetahuan ekstrinsik ini merupakan pengetahuan diluar produk secara fisik. Tentu saja supply chain management juga termasuk didalamnya. Lalu bagaimana jika memang dunia usaha yang digeluti merupakan hal yang baru?. Dalam hal ini Mas Gelardi memberikan kunci jawabannya yakni silaturahmi. Silaturahmi dalam rangka menjalin network yang lebih luas merupakan amunisi yang luar biasa dalam suatu usaha. Karena dengan begitu, ketika suatu masalah terjadi kita dapat dapat mengadu dan meminta saran pada pihak yang tepat. Dengan begitu diharapkan kita akan cepat tanggap terhadap permasalahan dan dapat menghasilkan solusi yang tepat.

 

LAPORAN PANDANGAN MATA : Dari Even TRAINING VBA

Posted by admin | Activities | Friday 29 May 2009 1:11 pm

Coba sebutkan siapa anak ITS yang tidak mengenal Excel!! Yakin 100% pasti semuanya mengenal software milik Microsoft berlogo X dengan warna hijau ini yang dikenal punya worksheet alias lembar kerja dengan kotak-kotak diseluruh halamannya. Semua juga pasti tahu kalau software ini sangat ampuh untuk membantu melakukan kalkulasi.
Masalah menggunakan Excel untuk melakukan kalkulasi, hampir dapat dipastikan anak ITS akan mengaku bisa menggunakannya. Tapi tunggu dulu… jangan bilang bisa menggunakan Excel kalau belum mengenal fungsi-fungsi ampuhnya. Kita bisa melakukan lebih banyak hal dengan data kalau saja kita bisa melakukan eksplorasi terhadap Excel. Ditambah lagi dengan aplikasi VB
A yang merupakan bagian dari Excel, kita bahkan bisa membuat game, slide show keren, atau aplikasi lainnya yang tidak akan pernah kamu bayangkan bisa dilakukan “hanya” dengan Excel.
Melihat potensi Excel yang luar biasa, salah seorang asisten dari Lab LSCM mengeksplorasi Excel dan VBA-nya. Dan kali ini Hendri, asisten tersebut, bersedia membagi pengetahuannya dengan teman-teman mahasiswa TI melalui Training VBA.

Training VBA ini diseleggarakan oleh Lab LSCM pada hari Minggu, 24 Mei 2009. Pelatihan yang berlangsung selama 6 jam ini diikuti oleh 20 peserta. Training VBA kali ini ditujukan untuk menunjukkan tips praktis dan kemampuan ‘luar biasa’ dari Excel yang pastinya belum banyak diketahui oleh pengguna Excel pada umumnya. Selain itu, diberikan juga sedikit pengantar VBA yang pastinya lumayanlah sebagai bekal untuk mengerjakan tugas kuliah yang berbasis LSCM.
Diselenggarakan di kelas Multi Media, even ini menjadi even perdana ekstra kuliah yang diselenggarakan di kelas yang masih gress tersebut. Pastinya suasana yang nyaman dari kelas MM di
tambah dengan menariknya materi VBA dan Excel membuat waktu berjalan tanpa terasa.
Rasanya tidak berlebihan kalau kita mengucapkan SALUUTTT buat asisten lab LSCM : Hendri dan asisten imutnya Ayu Narish yang sudah bekerja keras mempersiapkan modul dan materi untuk training VBA ini. Dan tentunya, ditunggu sharing ilmu dari teman asisten lainnya…. (^^) (/wid)

Sari Roti, Sukses dengan SCM system

Posted by admin | Activities | Friday 17 October 2008 6:29 pm

Lokasi Kunjungan Sari Roti

Pada aktivitas kunjungan perusahaan kali ini, Laboratorium LSCM mengadakan kunjungan ke PT Nippon Indosari Corpindo. PT Nippon Indosari Corpindo ini merupakan pabrik yang bergerak dalam produksi dan distribusi roti yang telah dikenal luas oleh masyarakat indonesia dan menjadi konsumsi sehari-hari. PT Nippon Indosari Corpindo memiliki dua main Brand yakni Sari Roti dan Boti.

sari-roti

Sekilas PT Nippon Indosari Corpindo

PT Nippon Indosari Corpindo merupakan salah satu produsen dan distributor Roti yang terbesar di Indonesia dan juga merupakan produsen roti pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi modern jepang dimana memiliki standar yang khusus dalam mencapai kriteria 3H ( halal, hygiene dan healthy). Pabriknya berada di dua tempat yaitu Cikarang Plant yang berada di Cikarang dan Pasuruan Plant yang tentunya berada di Pasuruan. PT Nippon Indosari Corpindo yang dibimbing oleh Shikishima Baking,Co,Ltd – salah satu perusahaan Roti di Jepang – mendatangkan langsung peralatan produksinya dari Jepang. Cikarang Plant memulai proses produksi sejak Maret 1997 yang memproduksi produk dengan Brand Sari Roti dan Boti dengan daerah pemasaran Jawa Barat, Jawa Tengah dan sebagaian Sumatra sedangkan Pasuruan Plant memulai proses produksi pada 24 November 2005 memproduksi produk hanya 1 Brand yaitu Sari Roti dengan daerah pemasaran Jawa Timur, Bali dan sebagian daerah Timur lainnya.

Dalam Penerapan sistem produksinya PT Nippon Indosari Corpindo memiliki prinsip yakni raw material stock accuracy, on time production schedule, easy picking, no inventory finished goods dan good quality control.

Sistem Distribusi PT Nippon Indosari Corpindo

Dalam pendistribusian produknya menuju end customer, dilakukan melalui tiga jalur yaitu 56% melalui retailer sedangkan 44% melalui agen dan direct order. Sekilas system pendistribusian ini nampak biasa, namun demikian ada sesuatu yang khas terjadi pada sistem pendistribusian Sari Roti. Dikarenakan produk Sari Roti merupakan produk dalam kategori Perishable Product yakni produk yang mudah rusak dan tidak tahan lama, maka dalam pendistribusiannya PT Nippon Indosari Corpindo menekankan sistem distribusinya pada dua hal berikut :

1. Reliable delivery Lead Time. Karena life time dari Sari Roti sangatlah pendek yakni 4 hari sebelum masa kadaluarsa terjadi, Reliable delivery Lead Time menjadi prioritas utama. Hal ini disebabkan karena semakin lama produk berada didalam pabrik maka semakin pendek umur dari produk berada di pasar. Tentunya bila Reliable delivery Lead Time rendah, maka akan banyak produk yang tidak terbeli di pasar.

2. Return management yaitu proses manajemen kembalinya produk ke pabrik. Return Management ini dilakukan sebagai salah satu langkah penjaminan kualitas terhadap produk yang telah dilempar ke pasar. Alasan utama mengapa produk Sari Roti ini dikembalikan ke pabrik tentu saja berkaitan dengan masa kadaluarsa dari produk Sari Roti. Sehingga hal ini bertujuan jangan sampai produk yang telah memasuki masa kadaluarsa tercampur dengan produk yang belum habis masa kadaluarsanya bahkan mungkin dibeli oleh customer. Product Return ini selalu ada setiap hari, tetapi jumlah totalnya hanya 1-2% dari total produksi. Produk yang dikembalikan tersebut sesampainya di pabrik langsung diproses menjadi bahan makanan hewan ternak untuk dijual kembali. Untuk memperjelas Model distribusinya, dapat dilihat pada gambar 1

bagan

Rangkaian Acara pada Kunjungan Sari Roti

Kunjungan ke PT. Nippon Indosari Corpindo ini diikuti oleh kurang lebih 70 orang peserta yang terdiri dari asisten Lab LSCM, peserta mata kuliah SCM (Supply Chain Management) baik mahasiswa S1 dan S2 serta peserta mata kuliah Manajemen Distribusi.

Rangkaian acara kunjungan ini dimulai dengan acara ramah tamah. Acara ramah tamah ini dibuka oleh Bu Lana yang memegang jabatan sebagai GM di PT. Nippon Indosari Corpindo untuk Plant Pasuruan. Dalam acara ramah tamah ini Bu Lana, menjelaskan segala aktivitas pembuatan sari roti yang terjadi di dalam plant dan bagaimana cara pendistribusiannya. Dari penjelasannya tersebut dapat ditangkap bahwa keberhasilan PT. PT. Nippon Indosari Corpindo tidak lepas dari manajemen rantai pasok yang baik dan teknologi informasi yang tepat guna. Setelah acara ramah tamah selesai, peserta kunjungan dipersilahkan untuk berkeliling dan menyaksikan proses pembuatan roti secara langsung. Di akhir acara setiap peserta diberikan satu tas souvenir berisi Roti Sariroti dalam beraneka jenis rasa. (/fit)