RFID (Radio Frequency Identification)

Posted by admin | Hot Issue | Friday 12 June 2009 12:13 pm

Wal-Mart di Amerika dan Metro di Jerman memelopori penerapan RFID. Kini, tak hanya pemasok peritel, industri lainnya pun ambil kuda-kuda.

RFID berpotensi diterapkan hampir di setiap sektor industri – perdagangan dan jasa – dimana ada proses pengumpulan data. Bisa juga sebagai tambahan terhadap teknologi data capture lainnya. Dari sisi industri, RFID bisa diterapkan di sepanjang rantai pasok, mulai dari hulu (pemasok dan pemanufaktur), kemudian merembet ke distribusi, transportasi, logistik, pergudangan dan berujung pada pengecer atau peritel.

Di rangkaian supply chain, penerapan RFID sangat berpengaruh pada pemasok dan pemanufaktur. Misalnya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar: Berapa jumlah barang yang harus dihasilkan? Kapan harus dibuat? Ke mana harus dikirim? Ada di mana barang-barang itu?

Dengan jawaban yang tepat dan akurat, mereka bisa membuat forecasting, memroduksi dan mendistribusikan secara lebih efisien. Bahkan, dengan RFID, just-in-time manufacturing dapat berkembang lebih jauh menjadi real-time manufacturing.(Ginsburg,2008)

RFID akan menyentuh tiap bagian dari bisnis pemanufaktur. Teknologi RFID akan berdampak positif pada pengelolaan bahan mentah dan aset-aset yang reusable, inventori gudang, pengiriman, pemrosesan pengembalian barang, logistik dan lainnya.

Bagi pemasok, RFID dapat memanfaatkan peralatan dan aset-aset lainnya secara lebih baik. Peralatan yang ber-tag RFID seperti forklift, troli dan kontener, dus dan palet akan lebih mudah dideteksi, juga isi yang dibawanya.

Dampak positif lain yang bakal dinikmati para pemanufaktur adalah inventory management yang lebih baik. Dengan menempelkan tag pada dus dan pallet, juga barang, perhitungan inventaris lebih akurat. Out-of-stock berkurang, karena para pemasok mengetahui dengan tepat kapan jumlah stok menipis. Jika teknologi untuk memprediksi permintaan ksalah satu bentuk RFIDonsumen sudah dimiliki, RFID membuatnya lebih efektif.

RFID dapat meningkatkan proses produksi. Bahan baku yang banyak dan beragam bisa diberi tag untuk mengurangi kesalahan dalam proses pemilihan atau pencampuran bahan baku. Selain dapat menghasilkan produk-produk yang bermutu tinggi, lingkungan kerjanya lebih aman.

RFID telah bergulir. Namun masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum digelar secara luas. Beberapa perusahaan riset pasar TI sudah wanti-wanti agar perusahaan yang ingin mengadopsi RFID perlu memperhatikan kesiapan infrastrukturnya.

Unik : Rantai Pasok Nucifera dari CV Biomass

Posted by admin | Activities | Saturday 6 June 2009 11:42 am

papan-nama3

Tanggal 2 juni lalu,  Lab. LSCM mengadakan kunjungan ke CV. Biomass. Peserta dari kunjungan ini adalah para asisten lab LSCM. Produk yang dihasilkan dari CV. Biomass ini salah satunya adalah Nucifera. Nucifera merupakan minyak kelapa murni yang diproduksi dengan tetap menjaga sifat natural dari buah kelapa segar (bukan kopra), diproduksi dengan prose salami tanpa bahan kimia, tanpa penambahan zat aditif, dan tanpa menggunakan pemanasan.

 

Pagi itu, dengan berkumpul di laboratorium terlebih dahulu, peserta kunjungan berangkat bersama-sama menuju kantor CV. Biomass yang terletak di Jalan Sarono Jiwo I. Disana, kami disambut oleh mas Gelardi selaku direktur dari CV. Biomass. Karena merupakan awal kali pertama bertemu, tentunya pertemuan tersebut diawali dengan ramah tamah. Para asisten Lab. LSCM saling memperkenalkan diri dan menyatakan maksud dari kunjungannya tersebut yakni mengetahui Supply Chain dari Nucifera itu sendiri.

 

Dari pertemuan tersebut, ternyata tidak hanya pengetahuan mengenai supply chain itu  sendiri yang didapatkan. Banyak sekali pengalaman-pengalaman inspiratif mengenai technopreneurship yang dijelaskan oleh Mas Gelardi dalam merintis bisnisnya itu. Dalam kisahnya merintis bisnis, ia menceritakan bagaimana awal mulanya CV. Biomass berdiri hingga sekarang ini.

 

Kisah technopreneurship : ”…. tertipu secara optimum dan bangkrut secara efektif..”

Mas Gelardi sendiri, dahulunya merupakan mahasiswa dari ITS jurusan Teknik Kimia. Sejak masa duduk di bangku kuliah,  dengan ke sepuluh kawannya, ia ingin sekali membuka suatu usaha yang tentunya memiliki basic yang berkaitan dengan latar belakang pendidikannya. Setelah lulus, sebelas orang tersebut dengan menggabungkan modal baik itu dana dan pikirannya untuk mendirikan CV. Biomass. Nama Biomass itu sendiri diambil dari nama salah satu laboratorium yang berada dalam naungan Teknik Kimia ITS.

 

Pengalaman demi pengalaman diceritakan secara jenaka oleh Mas Gelardi. Karena sangat menarik dan juga inspiratif, para peserta mendengarkan dengan seksama. Pelajaran yang menarik dapat diambil ketika ia bercerita tentang pentingnya pengetahuan untuk menghindari tertipu secara optimum dan bangkrut secara efektif. Kata-kata yang diucapakannya ini tentu saja menarik perhatian para peserta. Tentu saja kemudian ia menjelaskan maksud dibalik kata-katanya. Menurut pengalamannya, dalam menerjuni dunia usaha perlu mengetahui medan usaha tersebut dengan baik. Ia mengungkapkan bahwa  banyak terdapat faktor x yang tidak dapat diduga. Mas Gelardi sendiri bertutur bahwa sering kali ia tertipu dalam menjalankan bisnisnya itu. Misalkan saja, ketika ia harus mengirimkan kelapa-kelapa untuk produksi Nucifera, harus ada pengawasan yang ketat terhadap supplier. Karena salah-salah, jika tidak diawasi maka kelapa-kelapa yang dikirimkan adalah kelapa kecil atau kelapa yang tidak layak untuk diproduksi. Tidak itu saja pengalaman tertipunya, pernah juga suatu hari ia harus menanggung kerugian senilai  satu truk kelapa karena dibawa lari oleh pengemudi truknya. Pengalaman mengenai kebangkrutanpun juga tidak kalah menarik perhatian, yakni ketika ia berusaha dalam ekspor fiber.  Dalam usahanya ini, kesalahan fatal yang dilakukannya adalah mengabaikan medan tempuh dari ekspor fibernya. Fiber sendiri sangat tergantung dengan keadaan lingkungan sekitarnya. Memang sebelum pengiriman cek awal sudah dilakukan bahwa fiber yang dikirim memenuhi kualifikasi dari customer. Namun selama perjalanan ekspor fiber tersebut, ia tidak memperhitungkan kondisi alam tersebut. Customer sendiri tidak memberitahukan mengenai hal ini kepadanya, sehingga benar saja ketika sampai dilokasi customer fiber yang tiba tidak sesuai dengan kualifikasi. Pada saat itu, tentu saja ia harus menaggung kerugian yang sangat besar karena customer waktu itu hanya mau menanggung biaya 20% dari yang dijanjikan sebelumnya.

 

Supply Chain Nucifera

 

mobil

Untuk Supply Chain dari Nucifera sendiri awalnya memang terlihat sederhana yakni diawali dengan supplier yang memasok kebutuhan kelapa. Kelapa-kelapa ini selanjutnya diangkut menuju manufaktur untuk diproduksi. Setelah produksi selesai hingga tahap pengemasan, produk Nucifera ini dikirmkan kepada retailer atau outlet-outlet penjualan.  Namun demikian berdasarkan penuturan Mas Gelardi, bila dilihat dari sudut pandang supply chain sendiri, produk Nucifera yang diproduksi oleh CV. Biomass ini mempunyai karakteristik yang unik. Jika ditelusuri lebih dalam, ternyata dalam pengelolaan Supply Chain nya, ada beberapa hal penting yang harus menjadi perhatiannya yakni struktur geografi, musim, kultur dari negara indonesia  dan bentuk fisik kelapa itu sendiri.  Keempat hal ini sangat penting untuk dipertimbangkan dalam rangka menjaga kelancaran aliran produk dari hulu hingga ke hilir.

 

Dibandingkan dengan kelapa sawit, aktivitas supply untuk kelapa menurutnya lebih sulit. Hal ini dikarenakan karena pohon-pohon kelapa  yang menjadi ujung tombak dari usahanya itu secara geografi tersebar secara tidak merata di masing-masing rumah penduduk. Tidak seperti kelapa sawit yang memang dibudidayakan dalam perkebunan, sebelum dapat melakukan supply tentu saja kelapa-kelapa ini harus dikumpulkan disuatu tempat terlebih dahulu baru kemudian dikirimkan ke manufaktur. Hal ini tentu saja membutuhkan effort tersendiri dalam proses pelaksanaannya. Belum lagi jumlah panen dari kelapa-kelapa yang berbeda dalam satu tahun karena adanya pengaruh musim. Hal ini membuatnya berpikir bahwa tidak bisa usahanya hanya tergantung pada satu supplier saja. Supplier yang saat ini memasok kelapa untuk usahanya tersebar pada wilayah Jawa Barat, Lombok dan Bali. Namun demikian, dalam ilmu supply chain management, semakin banyak supplier akan menimbulkan permasalahan pada proses koordinasi. Apalagi adanya permasalahan perbedaan mengenai harga dan patokan kualitas dari tiap-tiap supplier akan menuntut tingginya effort dalam hal koordinasi supplier. Dari sisi kultur ada beberapa kendala juga yang tak bisa dihindari. Contohnya saja ketika ia mengusung ide melakukan pengiriman dengan menggunakan truk besar. Secara teori, dalam logistics management pengiriman sekali dalam jumlah yang besar akan meningkatkan economic of scale dari pengiriman. Namun demikian, kendala muncul dari penduduk-penduduk yang memiliki usaha sebagai transporter dengan truk-truk yang lebih kecil.  Tentu saja mereka tidak menyetujui adanya penggunaan truk besar karena akan berimbas pada usahanya. Demi menghormati kultur ini, tentu saja ide penggunaan truk besarpun tak dapat dijalankan. Dari sisi bentuk fisik kelapa, hal ini juga memiliki pengaruh yang berarti terutama dalam hal pengiriman. Untuk menjaga kealamian kelapa, kelapa harus dikirimkan dalam bentuk utuh masih berupa batok kelapa dan sabutnya padahal kebutuhan produksi hanya membutuhkan daging dari kelapa saja. Namun demikian, hal ini tetap harus dipertahankan meskipun perbandingan antara volume kelapa dan pengiriman sangatlah tidak efisien.

 

Dalam hal distribusi dan marketing, Mas Gelardi menjelaskan bahwa produknya Nucifera ini masih dalam tahap pencarian tipe distribusi dan sistem marketing yang efektif. Ia menjelaskan bahwa pertama kali distrtribusi dan marketing dari Nucifera dilakukan dengan direct selling system dengan menggunakan tenaga penjual (salesman). Hal ini dilakukan  mengingat produk Nucifera merupakan produk baru. Sehingga penyampaian mengenai knowledge product sangat penting pada awal pertama kali produk ini diluncurkan. Namun demikian, hal ini dirasa kurang efektif mengingat tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk mentraining tenaga sales. Untuk itu, kemudian dicobalah mass distribution system. Produk Nucifera ini dikirimkan dan di jual melalui toko-toko. Namun demikian, karena produk ini baru sistem distribusi seperti ini tidak menunjang marketing karena knowledge product tidak tersampaikan dengan baik pada cutomer. Karenanya saat ini, CV Biomass mencoba sistem marketing yang baru dalam menunjang distribusinya tersebut. Yakni dengan mengimplementasikan new wave marketing system. Harapannya adalah knowledge product dapat tersampaikan secara tepat namun disisi lain juga menekan biaya dari marketing itu sendiri.

 

Begitulah kunjungan yang dilakukan Lab. LSCM ke CV. Biomass. Dalam penutupannya Mas Gelardi menuturkan kesimpulan bahwa tidak selamanya usaha dapat berjalan licin sesuai dengan keinginan. Namun pengalaman-pengalaman tersebut tidak membuatnya patah arang dalam berusaha. Menurutnya yang paling penting adalah, untuk dapat menaklukan bidang usaha yang digelutinya, seseorang harus mengetahui dengan baik mengenai pengetahuan akan produknya baik itu pengetahuan intrinsik mengenai produk maupun ekstrinsik. Pengetahuan ekstrinsik ini merupakan pengetahuan diluar produk secara fisik. Tentu saja supply chain management juga termasuk didalamnya. Lalu bagaimana jika memang dunia usaha yang digeluti merupakan hal yang baru?. Dalam hal ini Mas Gelardi memberikan kunci jawabannya yakni silaturahmi. Silaturahmi dalam rangka menjalin network yang lebih luas merupakan amunisi yang luar biasa dalam suatu usaha. Karena dengan begitu, ketika suatu masalah terjadi kita dapat dapat mengadu dan meminta saran pada pihak yang tepat. Dengan begitu diharapkan kita akan cepat tanggap terhadap permasalahan dan dapat menghasilkan solusi yang tepat.

 

Operations and Supply Chain Management Practice conference 2009

Posted by admin | Event & Updates!! | Monday 1 June 2009 7:27 pm

Call for Papers

Special Issue on:
“CASE STUDIES IN SUPPLY CHAIN MANAGEMENT”
Guest Editor
Joel D. Wisner, Ph.D
Professor of Supply Chain Management, University of Nevada, Las Vegas

AIMS AND OBJECTIVES
For more than a decade issues regarding technology, security, globalization, and competition have transformed supply chains and the methods firms use to manage their supply chain trading relationships. Recent developments for example in radio frequency identification, Asian manufacturing, global financial markets, threats of terrorism, and the price of fuel have potentially impacted supply chain design and management issues. Consequently, these changes should be impacting pedagogical treatments of these topics.

The objective of this special issue is to collect case studies and teaching cases in the field of supply chain management for use in the classroom. As the many practices within supply chain management change, so too must the coverage of supply chain management within colleges and universities change. Ideally, papers in this issue should expose students to current supply chain management problems and practices, and place students in a manager’s position, enabling them to consider alternative solutions and make appropriate recommendations.

SUBJECT COVERAGE
Of interest in this call for papers are case studies or teaching cases of real companies involved in designing or managing their supply chains. Alternately, cases can be fictional while containing real problems and practices useful for classroom discussions. Real company cases though, will receive priority. Topics within this subject area include but are not limited to:

• Use of the Internet in managing supply chain relationships;
• Building customer and/or supplier relationships;
• Integrating processes among global trading partners;
• Free trade agreements and supply chain management;
• The greening of supply chains;
• Supply chain risk and security management;
• Supply chain management in developing economies;
• Small business supply chain management.

REVIEW PROCESS
Each paper submitted to this special issue is subject to the following review procedures: 1) it is reviewed by the editor for suitability in OSCM; 2) if suitable, two reviewers are selected and a double-blind review process takes place; 3) based on recommendations of the reviewers, the editor then decides whether the case study should be accepted as is, revised, or rejected. All teaching cases must be accompanied by a teaching note. Permission authorization must also accompany real cases if field research is used. Only unpublished manuscripts will be accepted for review.

Important dates :

- deadline for submission of papers is March 31, 2009.

- authors will be notified of the review results no later than May 31

- final manuscripts will then be due by August 15, 2009.

Each submission should be emailed as an attached Word document to:

Dr. Joel D. Wisner,
Special Issue Editor of OSCM
University of Nevada, Las Vegas;
Department of Management
College of Business;
Las Vegas, NV; USA 89154-6009
Joel.Wisner@unlv.edu

link to : http://journal.oscm-forum.org